Atlantis adalah misteri yang menggoda para
ilmuwan, dan kaum spritualis untuk menelisik kembali peradaban maju
manusia yang, konon, hilang. Setidaknya, ribuan buku telah ditulis ihwal
legenda itu.
Pada mulanya adalah Plato (427-347 SM),
filsuf Yunani, mencatat cerita soal benua hilang itu dalam dua karyanya,
Timaeus dan Critias. Keduanya adalah karya terakhir Plato, yang ditulis
pada 347 SM. Pada tahun sama pula Plato meninggal. Dikisahkan di kedua
karya itu, Atlantis adalah kota dengan peradaban tinggi dan teknologi
sangat maju.
Atlantis, kata Plato, punya kekuatan maritim dahsyat, dan
berada di depan “Pilar-pilar Hercules.” Tanahnya subur, rakyatnya
makmur. Dia semacam surga di bumi, yang wilayahnya meliputi barat Eropa
hingga Afrika. Plato mengatakan, Atlantis hadir sekitar 9.000 tahun
sebelum mazhab Solon, atau 9.600 tahun sebelum zaman Plato hidup.
Kejayaan Atlantis, kata Plato, mulai pudar setelah gagal
menguasai Athena, negeri para dewa dan dewi. Petaka menimpa Atlantis
sehingga pulau itu hilang ditelan laut dalam hitungan hari. Para
penghuni yang selamat pergi mencari tempat baru. Atlantis akhirnya
menjadi “surga yang hilang.”
Memang, banyak orang ragu pada cerita Plato yang mirip
dongeng itu. Tapi, seperti dijelaskan Alan Cameron dalam buku “Greek
Mythography in the Roman World” terbitan Oxford (2004), mitologi adalah
tiang bagi budaya elit bangsa Yunani. Meski banyak yang meragukan
kebenarannya, tapi kisah itu bisa jadi refleksi peristiwa tertentu di
masa lalu.
Atlantis, misalnya, menjadi diskusi menarik setelah Zaman
Pencerahan. Ada bantahan, parodi, hingga penjelasan ilmiah. “Tampaknya
hanya di zaman modern orang-orang menganggap serius kisah Atlantis,”
tulis Cameron.
Ada yang menyebut cerita itu diilhami kisah masa lalu,
seperti letusan Gunung Thera atau Perang Troya. Atau simak juga klaim
bahwa Plato terilhami sejumlah peristiwa kontemporer di masanya, seperti
runtuhnya dinasti Helike pada 373 SM. Atau, gagalnya invasi militer
Athena atas Pulau Sisilia pada perang tahun 415-413 SM.
Di awal peradaban moderen, kisah Atlantis itu dihidupkan
kembali oleh para penulis aliran humanis di era Renaissance Eropa. Salah
satunya Francis Bacon, yang menerbitkan esei berjudul “New Atlantis”
pada 1627.
Dalam tulisannya, Bacon melihat Atlantis sebagai suatu
masyarakat utopis yang dia sebut Bensalem. Letaknya di pesisir barat
benua Amerika. Penulis lain tak mau kalah. Olaus Rudbeck, melalui
tulisannya pada 1679, beranggapan Atlantis berada di negara
kelahirannya, Swedia. Negara itu disebut Rudbeck sebagai awal lahirnya
peradaban, termasuk bahasa.
Ilmuwan kenamaan Inggris, Sir Isaac Newton pun unjuk
pendapat. Pada 1728, penemu teori gravitasi itu menerbitkan karya
berjudul “The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended.” Newton juga
penasaran mempelajari penjelasan mitologis terkait Atlantis.
Meski tak menyinggung khusus Atlantis, Newton memaparkan
peristiwa bersejarah di sejumlah tempat, yang punya masa gemilang mirip
Atlantis versi Plato. Misalnya, kejayaan Abad Yunani Kuno, Kekaisaran
Mesir, Asuriah, Babilonia, Kuil Salomo, dan Kerajaan Persia.
Mitologi Atlantis juga membuat rezim Nazi di Jerman
terusik. Pada 1938, seorang pejabat tinggi polisi khusus Nazi, Heinrich
Himmler, kabarnya membentuk tim ekspedisi ke Tibet. Soalnya, ada cerita
Atlantis itu dibangun bangsa Arya, nenek moyang orang-orang Jerman. Misi
itu gagal. Keyakinan Nazi itu belakangan diragukan sejumlah ilmuwan.
Jejak di Nusantara
Perburuan, dan spekulasi keberadaan Atlantis terus dicari
sepanjang zaman. Sejumlah karya lahir, dan menunjukkan daerah tertentu
diduga bagian dari ‘Kejayaan yang Tenggelam’ itu.
Indonesia juga masuk dalam daftar spekulasi para peneliti
dan peminat mitologi Atlantis. Misalnya, Profesor Arysio Santos dari
Brazil. Dia geolog dan fisikawan nuklir. Lalu, ada ahli genetika dari
Oxford, Inggris, Profesor Stephen Oppenheimer. Keduanya menduga wilayah
Indonesia memendam sisa-sisa ‘Surga Yang Hilang’ itu.
Santos menampilkan peta wilayah Indonesia dalam bukunya
yang terbit pada 2005, “Atlantis: The Lost Continent Finally Found.”
Benua hilang itu kemungkinan berada di sebagian Indonesia dan Laut China
Selatan, demikian keyakinan Santos. Dalam karya itu, dia mengklaim
telah melakukan riset perbandingan, seperti kondisi wilayah, cuaca,
potensi sumber daya alam, gunung berapi, dan pola hidup masyarakat
setempat.
Dalam buku itu, dia berhipotesis, wilayah Nusantara dulunya
adalah Atlantis. Bagi Santos, indikasi itu antara lain soal luas
wilayah. Seperti dikatakan Plato, Atlantis “lebih besar dari gabungan
Libya (Afrika Utara) dan Asia (Minor)”. Indonesia, oleh Santos, dianggap
cocok dengan karakter geografi itu.
Video wawancara Santos di laman YouTube,
menampilkan dia tak ragu bahwa Atlantis benar-benar ada, dan bukan
sekedar mitos. Santos menjelaskan mengapa selama ini para ilmuwan gagal
menemukan Atlantis, dan ragu akan keberadaan kota yang hilang itu.
“Karena mereka mencarinya di tempat yang salah. Mereka mencarinya di
Laut Atlantis,” kata dia dalam wawancara di YouTube, seperti dimuat laman Hubpages.
Anggapan Atlantis berada di Samudera Atlantis, memang
logis. Namun, itu bukan lokasi yang tepat. “Atlantis berada di Lautan
Hindia [Indonesia], di belahan lain bumi,” kata dia. Di belahan bumi
timur itulah, peradaban bermula. Namun, kata dia, Samudera Hindia atau
Laut China Selatan sebagai lokasi Atlantis hanya batasan. “Lebih
pastinya di Indonesia,” lanjut Santos.
Sebelum zaman es berakhir 30.000 sampai 11.000 tahun lalu,
di Indonesia terdapat daratan besar. Saat itu permukaan laut 150 meter
lebih rendah dari yang ada saat ini. Di lokasi itulah tempat adanya
peradaban. Sementara, sisa bumi dari Asia Utara, Eropa, dan Amerika
Utara masih diselimuti es.
Pulau-pulau yang tersebar di Indonesia dianggap sebagai
puncak gunung, dan dataran tinggi dari suatu benua yang tenggelam akibat
naiknya permukaan air laut, dan amblesnya dataran rendah di akhir Masa
Es Pleistocene. Itu terjadi sekitar 11.600 tahun lampau. “Itu adalah
rentang waktu sama dengan dipaparkan Plato dalam dialog ciptaannya saat
menyinggung Atlantis,” tulis Santos pada bagian pendahuluan di bukunya.
Berbeda dengan keyakinan para peneliti sebelum atau pada
generasi Santos, dia pun optimistis bahwa Indonesia, yang disebut
sebagai bekas peninggalan Atlantis, menjadi cikal bakal lahirnya
sejumlah peradaban kuno.
Para penghuni wilayah yang selamat dari naiknya permukaan
air laut dan letusan gunung berapi akhirnya berpencar mencari
tempat-tempat. Mereka “pindah ke wilayah-wilayah yang kini disebut
India, Asia Tenggara, China, Polynesia, Amerika, dan Timur Dekat,” tulis
Santos.
Penjelasan serupa juga dikemukakan penulis asal Inggris,
Stephen Oppenheimer, dalam buku “Eden in The East: The Drowned Continent
of Southeast Asia” (1998). Dia menulis suatu benua yang tenggelam
akibat banjir bandang, dan naiknya permukaan air laut sekitar 7.000
hingga 14.000 tahun yang lampau.
Wilayah yang tenggelam itu berada di wilayah yang kini
disebut sebagai Asia Tenggara. Oppenheimer menyebut benua tenggelam itu
sebagai Sundaland. Para penghuni yang selamat saat itu lalu menyebar ke
berbagai tempat hingga ke Eropa, membawa budaya dan pola hidup mereka.
Itu sebabnya Oppenheimer berasumsi asal-usul ras Euroasia di Eropa bisa
ditelusuri di Asia.
Oppenheimer pun yakin bahwa para penghuni Sundaland saat
itu punya peradaban maju dari wilayah-wilayah lain. “Mereka sudah
mengembangkan pola menyambung hidup, dari sekadar berburu binatang
menjadi bertani, berkebun, mencari ikan, bahkan perdagangan melintas
laut. Semua itu sudah dilakukan sebelum 5.000 tahun yang lampau,”
demikian penggalan asumsi dari Oppenheimer.
Sejarah selama ini mencatat induk peradaban manusia modern
berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia. Tetapi, menurut dia,
nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah
Melayu yang sering disebut Sundaland, atau Indonesia.
Apa buktinya? “Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu
ada dari peradaban agrikultur lain di dunia,” kata Oppenheimer dalam
diskusi bedah bukunya di Jakarta, Oktober 2010. Tentu, pendapat ahli
genetika dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford itu, memberi
paradigma berbeda dari yang ada selama ini bahwa peradaban paling awal
berasal dari Barat.
Berbeda dengan Santos, Oppenheimer tak langsung
menyimpulkan Sundaland adalah Atlantis. Dia sendiri mengakui butuh
penelitian lebih lanjut, dan berharap ada kerjasama dengan peneliti di
Indonesia, untuk menjelaskan Sundaland adalah Surga yang Tenggelam itu.
Tapi, Oppenheimer meyakini Sundaland di wilayah Nusantara itu punya
peradaban sangat maju di masanya.
Ilmu semu?
Pendapat Santos dan Oppenheimer mengenai
jejak Atlantis dan Indonesia sebagai bekas pusat peradaban itu di satu
sisi mengundang pesona. Tapi tak semua pihak percaya atas klaim itu.
Menariknya, justru ilmuwan Indonesia sendiri mengkritik pandangan dua
pengamat asing itu.
Profesor Riset Astronomi dari Lembaga Penerbangan dan
Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, meragukan cerita
Atlantis itu. Bagi Djamaluddin, kisah Atlantis itu hanya sekadar cerita,
dengan nilai ilmiah yang minim.
Penjelasan Atlantis yang dilontarkan para
peneliti selama ini masuk dalam pseudosains, atau ilmu semu. Ini bukan
ilmiah. Ini pseudosains. Antara cerita dengan fakta ilmiah itu bercampur
di sana.
Tapi kata Djamaluddin, Atlantis tak lebih dari sekadar
cerita karangan Plato yang melegenda. “Kalau itu dijadikan fakta ilmiah
sejarah geologi, Plato itu hanya berdasarkan pemahaman dia. Plato tak
menyebutkan data,” jelas Djamaluddin.
Peneliti lulusan lulusan Kyoto University, Jepang, itu juga
menilai sejarah geologi tak memperlihatkan Indonesia adalah Atlantis.
“Tulisan sejenis Santos ini sudah beredar lama. Itu hanya dugaan saja,”
ujarnya.
Bantahan lain, misalnya datang dari geolog
senior dari BP Migas, Awang Satyana. Dalam satu acara bedah buku Santos,
sekitar dua tahun silam, Awang mengatakan Santos tak mengajukan bukti
dan argumentasi geologi.
Sundaland, kata Awang, adalah paparan benua
stabil yang tenggelam 15.000 – 11.000 tahun lalu oleh proses deglasiasi
akibat siklus perubahan iklim. “Bukan oleh erupsi volkanik. Erupsi
supervolcano justru akan menyebabkan musim dingin dalam jangka panjang,”
ujar Awang.
Bahkan soal migrasi manusia Sundaland ke
sekujur bumi, kata Awang, berlawanan dengan bukti penelitian migrasi
manusia modern secara biomolekuler.
Pakar geologi dari Universitas Padjajaran,
Oki Oktariadi, mengingatkan dugaan lokasi Atlantis bukan hanya
Indonesia. Ada banyak wilayah seperti Andalusia, Pulau Kreta, Santorini,
Tanjung Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia, Troy, dan lain-lain.
“Hasil penelitian terbaru oleh Kimura’s (2007) menemukan
beberapa monumen batu di bawah perairan Yonaguni, Jepang yang diduga
sisa-sisa dari peradaban Atlantis atau Lemuria,” demikian paparan
Oktariadi dalam makalahnya yang berjudul “Benarkah Sundaland itu
Atlantis yang Hilang?”
Walau kebenarannya masih diragukan, bagi Oktariadi,
penelitian itu punya nilai positif bagi Indonesia. Setidaknya, negeri
ini lebih dikenal di dunia internasional, khususnya di antara para
peneliti di berbagai bidang.
[UNIKNYA.COM]: Atlantis merupakan salah
satu misteri di dunia yang belum terpecahkan hingga kini. Legenda
tentang Atlantis yang berperadaban maju dan modern mengilhami banyak
orang untuk membuat buku, film, serial televisi, video game, dll.
Seperti film Walt Disney: The Lost Empire dan video game Tomb Rider yang
berlatarkan Atlantis.
Cerita tentang Atlantis pertama kali disebut Plato dalam buku Timaeus dan Critias.
Dalam bukunya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar di seberang
pilar-pilar herkules dan memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa
Barat dan Afrika 9000 tahun sebelum waktu solon atau sekitar 9500
sebelum Masehi. Banyak orang yang meyakini peradaban Atlantis memang
pernah ada, tetapi banyak pula yang berpandangan bahwa hal itu hanyalah
cerita fiktif dan rekaan Plato semata. Bahkan, murid Plato, Aristoteles,
tidak mempercayainya. Oleh karena itu, lahir sebuah ungkapan mengenai
pemikir terkenal dari negara para dewa ini, yaitu, saya memang menyukai
Plato, tetapi saya lebih mencintai kebenaran. Atlantis dan
misteri-misteri yang menyelimutinya memang sangat menarik untuk
dibicarakan. Berikut uniknya.com merangkum 5 cerita legenda Atlantis:
1. Atlantis yang Berperadaban Maju
Atlantis digambarkan sebagai negara yang
memiliki peradaban tinggi pada masanya. Ukuran pulau Atlantis
digambarkan Plato lebih besar dari gabungan Lybia atau Afrika Utara dan
Asia kecil. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah
dengan luas laut Cina Selatan.
Atlantis merupakan tempat tinggal
orang-orang terhormat dan bijaksana dengan peradaban yang menakjubkan.
Kerajaan ini adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan
pusat kebudayaan dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai
pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan
irigasi, dan olahraga. Istana-istana dikelilingi tembok emas dan
dipagari dinding perak. Dinding tembok bertahtakan emas sehingga sangat
cemerlang dan megah.
Atlantis memiliki pelabuhan dan kapal
dengan perlengkapan yang sempurna. Negara ini juga memiliki alat yang
bisa terbang. Kekuasaannya terbentang dari Eropa hingga Afrika.
| Silahkan Klik untuk Melihat Gambar atau Video... |
Buka |
|
2. Lokasi Atlantis
Legenda mengenai Atlantis telah menjadi
bahan perdebatan yang panjang. Ada yang mempercayainya, tetapi banyak
pula yang berpandangan bahwa itu hanya hasil daya khayal Plato. Meski
demikian, banyak pula ahli yang percaya bahwa Atlantis benar-benar ada.
Untuk mendukung teorinya, mereka menyodorkan berbagai bukti tentang di
mana tepatnya lokasi Atlantis.
Banyak yang menganggap Atlantis terletak
di Samudera Atlantis. Bahkan ada yang menganggap Atlantis terletak di
Amerika sampai Timur Tengah. Para penduduknya dianggap sebagai dewa,
makhluk luar angkasa, atau bangsa superior. Namun, kebanyakan peneliti
tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup dan sebagian besar hanya
mengira-ngira.
Ada yang menyebutkan Atlantis berada di
Selat Sisilia seperti yang diyakini para penulis Yunani pada masa lalu.
Kemudian, ada pula yang menyatakan Atlantis terletak di laut
Mediterania. Teori ini antara lain dikemukakan Ignatus Doneley yang
menyebutkan pernah ada sebuah pulau raksasa di Samudera Atlantik yang
bersebrangan dengan laut Mediterania. Menurut Donley, aksara phoenica
yang melahirkan alphabet Eropa merupakan turunan langsung dari aksara
bangsa Atlantis.
Pendapat lain menyebutkan Atlantis akan
muncul di Bimini yang merupakan kepulauan di gugusan pulau Bahama.
Pendapat lain menyatakan Atlantis berada di segitiga bermuda yang selama
ini sering dikaitkan dengan hal-hal yang misterius, seperti
menghilangnya kapal laut dan pesawat yang melintas di sana.
Yang terbaru dan mungkin akan membuat
rakyat Indonesia merasa bangga adalah pendapat yang dilontarkan seorang
peneliti asal Brazil, Aryso Santos, menurutnya, berdasarkan penelitian
yang telah dilakukannya selama 30 tahun, ia berkesimpulan benua Atlantis
yang hilang itu adalah Indonesia.
Hasil penelitiannya itu ia tuangkan
dalam buku berjudul Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The
Devinitive Localization of Plato’s Lost Civilization. Santos pun membuat
33 analisis perbandingan mengenai luas wilayah, cuaca, kekayaan alam,
gunung berapi, hingga cara bertani. Analisis peneliti asal negeri samba
ini memang memiliki tingkat presisi yang tinggi, tetapi tetap saja
terasa ada kepingan yang hilang sehingga masih menimbulkan perdebatan.
| Silahkan Klik untuk Melihat Gambar atau Video... |
Buka |
|
3. Lemuria
Ada peradaban serupa yang diduga pernah
sama-sama hidup dengan Atlantis, yaitu Lemuria atau Mu. Bahkan Lemuria
dianggap memiliki peradaban yang lebih tua dibandingkan Atlantis. Para
peneliti menempatkan era peradaban Lemuria disekitar periode 75.000 SM –
11.000 SM. Oleh karena itu, bangsa Atlantis dan Lemuria pernah hidup
bersama selama ribuan tahun lamanya.
Peradaban Lemuria diperkirakan lebih
dulu ada dibandingkan peradaban Atlantis dan Mesir Kuno dapat diperoleh
penjelasannya dari sebuah karya Augustus Le. Seorang peneliti dan
penulis abad ke-19 yang mengadakan penelitian terhadap situs-situs
purbakala peninggalan bangsa maya di Yucatan.
Informasi tersebut diperoleh setelah
keberhasilannya menerjemahkan beberapa lembaran catatan kuno peninggalan
bangsa Maya. Dari hasil terjemahan, diperoleh beberapa informasi yang
menunjukkan hasil bahwa bangsa Lemuria memang berusia lebih tua daripada
Atlantis.
Seperti lokasi Atlantis, kepastian letak
dari benua Lemuria pada masa silam masih menjadi sebuah kontroversi.
Namun, berdasarkan bukti arkeologis dan beberapa teori yang dikemukakan
oleh para peneliti, kemungkinan besar peradaban tersebut berlokasi di
Samudera Pasifik atau di sekitar Indonesia sekarang.
| Silahkan Klik untuk Melihat Gambar atau Video... |
Buka |
|
4. Perang Atlantis Melawan Lemuria
Keadaan Lemuria digambarkan sangat mirip
dengan peradaban Atlantis yang memiliki tanah subur, makmur, dan
menguasai beberapa cabang ilmu pengetahuan. Faktor-faktor tersebut
menjadi sebuah landasan pokok bagi bangsa Lemuria untuk berkembang pesat
menjadi sebuah peradaban yang maju dan memiliki banyak ilmuwan yang
dapat menciptakan suatu terobosan baru dalam ilmu pengetahuan dan
teknologi mereka.
Meski demikian, ada perbedaan mendasar
antara Atlantis dan Lemuria. Apabila bangsa Atlantis dikenal lebih
mengandalkan fisik, teknologi yang maju, dan gemar berperang, maka
bangsa Lemuria justru dipercaya sebagai manusia-manusia dengan tingkat
evolusi dan spiritual yang tinggi, sangat damai, dan bermoral.
Atlantis sebagai negara super power pada
masanya, bernafsu menaklukkan bangsa-bangsa lain, termasuk dua bangsa
yang menonjol pada masa itu, Athena atau Yunani dan Lemuria. Berbekal
peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik, Atlantis
mampu menaklukkan Lemuria yang tidak memiliki teknologi perang secanggih
bangsa Atlantean. Ada yang menyebutkan, bangsa Lemuria yang terdesak
akhirnya meninggalkan Bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet
lain yang memiliki karakteristik seperti Bumi. Konon, saat ini mereka
tinggal di planet Erra atau Terra Digugus bintang Pleiades.
| Silahkan Klik untuk Melihat Gambar atau Video... |
Buka |
|
5. Kehancuran Atlantis
Kehancuran dan lenyapnya Atlantis
menurut Plato terjadi akibat gempa bumi dan banjir besar. Menjelang
kehancurannya, terjadi penurunan dalam kualitas hidup manyarakat
Atlantis. Apabila sebelumnya rakyat Atlantis selama banyak generasi
memiliki karakter yang mulia, patuh kepada hukum, memiliki ketertarikan
yang kuat kepada dewa, setia pada rajanya, dan memiliki kepedulian pada
sesame, maka lambat laun semua hal baik itu mulai menurun.
Karakter-karakter mulia tersebut mulai
memudar dan menjadi terlalu sering dikompromikan. Mereka bercampur
dengan sifat-sifat duniawi, dan sifat itu kemudian menjadi pengendali.
Oleh karena itu, mereka tidak mampu lagi menanggung kekayaan yang mereka
miliki. Mereka mulai berperilaku tidak sepantasnya dan mata mereka
menjadi rabun karena mereka telah kehilangan harta mereka yang paling
berharga.
Plato menggambarkan penurunan kualitas
hidup warga Atlantis ini dengan mengatakan, pikiran sekilas yang suci
murni perlahan kehilangan warnanya dan diselimuti oleh gelora nafsu
iblis, maka orang-orang Atlantis yang layak menikmati keberuntungan
besar itu mulai melakukan perbuatan tidak senonoh, orang yang arif dapat
melihat akhlak bangsa Atlantis yang makin hari makin merosot, kebajikan
mereka yang alamiah perlahan-lahan hilang, tetapi orang-orang awam yang
buta itu malah dirasuki nafsu, tidak dapat membedakan benar atau salah,
masih tetap gembira, dikiranya semua atas karunia Tuhan.
Menurut Plato, Atlantis merupakan benua
yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus.
Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh
lapisan-lapisan es. Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi
secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia, maka
tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang
mencair. Di antaranya letusan Gunung Meru di India Selatan, Gunung
Semeru, Sumeru, dan Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi
di Sumatera yang membentuk danau Toba dengan pulau Somasir, yang
merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling
dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau yang memecah bagian
Sumatera, Jawa, dll, serta membentuk selat dataran Sunda.
Sementara menurut Prof. Arsoyo Santos
dari Brazil, terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu menyebabkan
lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah.
Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani
samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit
bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini
mengakibatkan gempa yang diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus
kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang-gelombang tsunami
yang dahsyat.(**)
Atlantis, Sebuah Misteri yang Abadi
5/1/2013 by uriel
Mitos
tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang
filsafat Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam buku Critias dan
Timaeus
Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay
Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat
pergi ke pulau lainnya,
di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut
samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan
melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis
tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam,
tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui
peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.
Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias
mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat
Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog.
Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias,
sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama
Solon (639-559 SM).
Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno,
suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam
leluhur mengetahui legenda Atlantis.
Garis besar kisah pada buku tersebut Ada sebuah daratan raksasa di
atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang
bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan
perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas
dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan
emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan
peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan
perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang
terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai
daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat,
tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.
Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran
bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan
teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah
bangsa yang besar dan mempunyai kehidupan yang makmur.
Tapi kemudian saya mempunyai pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita
untuk pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato mempunyai
bukti2 kuat dan otentik bahwa atlantis itu benar-benar pernah ada dalam
kehidupan di bumi ini?
Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang
dalam pencarian untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah
ada.
Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis,
kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali
mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama
sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta
petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu
Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan,
karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah
yang direkayasa.
Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak
12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di
manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang
menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20
sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera
Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida
pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.
Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera
Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca
yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam
dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang
menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam
secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar
membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar
yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar
kecilnya batu
dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya
cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?
Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik,
sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada
kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu
memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan
yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti
yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya
kerajaan Atlantis?
Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8
lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya
manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?
Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen
yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut”
laut Bermuda.
Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter,
puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter,
lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua
lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di
dasar lubang.
Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan
kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa
peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida,
apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?
Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah
areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua,
ada dataran, jalan
besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah,
gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua
mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah
Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?
Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh
Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa
Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia.
Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku
“Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve
Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33
perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi,
dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah
Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya,
ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan
bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua
yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa,
Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai
pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan
dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari
Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat
letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu
sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era
Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara
bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu,
maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang
mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung
Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di
Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan
puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di
kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian
Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil
itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung
berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera
sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung
berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan
luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai
benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh
gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan
gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia,
tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai
bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua
Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh
Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti
tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena
itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed
magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya
lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos
sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah
Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.
Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di
antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung,
Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari
gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ini ada lagi yang lebih unik dari Santos dan kawan-kawan tentang
usaha untuk menguak misteri Atlantis. Sarjana Barat secara kebetulan
menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang
Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal
kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai
bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi
Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang
mengapa Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.
Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan
Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang
berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita
“Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit
listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang
bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di
tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa diletakkan di atas alas dasar
hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya
melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem
operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati,
memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini
adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang
lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami, pelindung
lainnya wanita.
Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda
rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi,
dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari
rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan
rutin. Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah bahwa “tubuh
merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan
tubuh dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan.
Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas
yang diikat di pinggang belakang setelah disilang di depan dada. Lelaki
berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi,
sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama.
Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan,
mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan
jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari
bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna karena
bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan
ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki
fungsi pengobatan.
Berkomunikasi dengan Hewan
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di
sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau
besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah
danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area
danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari
lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali
ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah
tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib dan
penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan
serta keharmonisan masyarakat kami. Hanya sedikit orang pergi
mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama
mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan
nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi
mereka membuat saya penuh vitalitas sekaligus memberiku kekuatan. Saya
dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin
pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata dan
memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung”
yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.
Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama
seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah
tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak
lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos.
Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”.
Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami
berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan
rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai
pikiran atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap
demikian.
Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama
sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina
jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada
keseimbangan dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling
mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.
Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas.
Padang rumput ini menyebarkan aroma wangi yang lembut, dan saya suka
duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga
segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang
berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda
secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput
ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus dan berkualitas
tinggi serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak
tunas, kemudian memetik dan mengekstrak sari pati kehidupannya.
Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah.
Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting
di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati dan
memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam
jenis kacang-kacangan juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah
ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung
jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.

Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya
tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh
mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka mempunyai kecerdasan,
pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan
mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih
bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan,
marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif,
lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut
telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang
kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing
orang-orang ini bekerja yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang
akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini
merupakan hal yang paling mendasar.

Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak
terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan
sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang
tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada
sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah
membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau
kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.
Teknologi yang Tinggi
Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang”
(UFO), mereka menggunakan medan magnet mengendalikan energi perputaran
dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk
perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol
yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip
seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga
menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi
rumah tangga atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan
cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”
Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami
berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai
daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui
respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang
istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat.
Maka, pekerjaan mereka adalah duduk dan menerima informasi yang
disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya
mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.
Pengobatan yang Maju
Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan
yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian
dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara
keseluruhan.
Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat
penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien
diarahkan ke sebuah kamar khusus untuk menentukan pengobatan. Di kamar
pertama, asisten yang terlatih baik dan berpengetahuan luas tentang
pengobatan akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien.
Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien
akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan
mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.
Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan
diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut,
terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung,
agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua
indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera
penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman,
“musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air
murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum
air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar,
menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah
terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan
“energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan
kejiwaan.
Pendidikan Anak yang Ketat
Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta
bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang
pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak.
Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah,
menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan
dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat
getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran
positif dan kisah bertema filosofis.
Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik
untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar
membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di
tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat
besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis,
biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun,
tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan
setiap orang.
Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3
tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan
gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat
bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid
santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak
mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan
perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada
kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif.
Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak
dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak
besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif,
sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan
perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat
kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang
dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama
mengembangkan potensinya.
Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci
utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari
terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka
frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran
inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran
terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang
positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada
keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir
orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak
dibenarkan.
Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang.
Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi
masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan.
Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan
orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh
memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung
jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa
tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini
sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah
pelindung kami.
Kiamat yang Melanda Atlantis
Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan
perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan
melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali
tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada
perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis untuk
mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan
kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan
sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan
makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara
keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia
kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.
Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan
setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang
berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan
transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada
alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka
adalah seks. Orang yang sadar mengetahui bahwa ini akan mengakibatkan
ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas dan
takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat
besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan
untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan
inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main,
biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak
matang.
Teknologi Maju yang Lalim
Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung
ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun,
adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik
terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan.
Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara
disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi
udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.
Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang
paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang
paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah
melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat
Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan
kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam
tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira
dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin
mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.
Menjelang Hari Kiamat
Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang
pintar dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir
dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan
mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai
berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka
akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis
akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran,
Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu
saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu
lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat
yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami
dapat pergi dengan aman ke barat.
Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian
pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis
dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta.
Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh
karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan
meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh
karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah
perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka
kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi
tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.
Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami
kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke
kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung
transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia
akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat
kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus
menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.

Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik
terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana
kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang
mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan
kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang.
Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok,
kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap
tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api
merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat
sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke
arah terang. Saya memandang ke bawah dan terlihat daratan sedang
tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke
segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat pasti jatuh ke dalam
kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti
sebuah cerek air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang
kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah
menenggelamkan daratan.

Sumber Kehancuran
Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi
bangsa Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan
pengalamannya akan materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern,
sebaliknya mirip dengan ilmu pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang
dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini jauh melampaui peradaban
sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif. Bandingkan
dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan,
bahkan mempunyai kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan
hewan, yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat,
dicekoki berbagai pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.
Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk
mengembangkan seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini
membuat peradaban mereka bisa berkembang pesat dalam jangka panjang dan
penyebab utama tidak menimbulkan gejala ketidakseimbangan. Mengenai
punahnya peradaban Atlantis, layak direnungkan orang sekarang. Plato
menggambarkan kehancuran Atlantis dalam dialognya sebagai berikut:
“Hukum yang diterapkan Dewa Laut membuat rakyat Atlantis hidup
bahagia, keadilan Dewa Laut mendapat penghormatan tinggi dari seluruh
dunia, peraturan hukum diukir di sebuah tiang tembaga oleh raja-raja
masa sebelumnya, tiang tembaga diletakkan di tengah di dalam pulau kuil
Dewa Laut. Namun masyarakat Atlantis mulai bejat, mereka yang pernah
memuja dewa palsu menjadi serakah, maunya hidup enak dan menolak kerja
dengan hidup berfoya-foya dan serba mewah.”
Plato yang acap kali sedih terhadap sifat manusia mengatakan:
“Pikiran sekilas yang suci murni perlahan kehilangan warnanya, dan
diselimuti oleh gelora nafsu iblis, maka orang-orang Atlantis yang layak
menikmati keberuntungan besar itu mulai melakukan perbuatan tak
senonoh, orang yang arif dapat melihat akhlak bangsa Atlantis yang makin
hari makin merosot, kebajikan mereka yang alamiah perlahan-lahan
hilang, tapi orang-orang awam yang buta itu malah dirasuki nafsu, tak
dapat membedakan benar atau salah, masih tetap gembira, dikiranya semua
atas karunia Tuhan.”
Hancurnya peradaban disebabkan oleh segelintir manusia, banyak yang
tahu sebabnya, akan tetapi sebagian besar orang mengabaikannya, maka
timbul kelongsoran besar, dalam akhlak dan tidak dapat tertolong. Maka,
sejumlah kecil orang berbuat kesalahan tidak begitu menakutkan, yang
menakutkan adalah ketika sebagian besar orang “mengabaikan kesalahan”,
hingga “membiarkan perubahan” selanjutnya diam-diam “menyetujui
kejahatan”, tidak dapat membedakan benar dan salah, kabar terhadap
kesalahan mengakibatkan kesenjangan sifat manusia, moral masyarakat
merosot dahsyat, mendorong peradaban ke jalan buntu.
Kita sebagai orang modern, dapatlah menjadikan sejarah sebagai cermin
pelajaran, merenungi kembali ilmu yang kita kembangkan, yang mengenal
kehidupan hanya berdasarkan pengenalan yang objektif terhadap dunia
materi yang nyata, dan mengabaikan hakikat kehidupan dalam jiwa. Makna
kehidupan sejati, berangsur menjadi bisnis memenuhi nafsu materiil,
seperti ilmuwan Atlantis, segelintir orang tunduk pada keserakahan,
tidak mempertahankan kebenaran, demi kekuasaan dan kemuliaan,
mengembangkan teknologi yang salah, merusak lingkungan hidup. Apakah
kita sedang berbuat kesalahan yang sama?